4_Shared

Ikon

Jangan berpikir apa yang akan kamu dapatkan dari Islam tapi berpikirlah apa yang akan kamu berikan untuk Islam

5 Keuntungan

Alat Ukur Keuntungan
Penulis : KH Abdullah Gymnastiar

Ciri kapitalis itu dua. Pertama, dalam mencari keuntungan mereka
tidak menggunakan tata nilai yang baik, mengeksploitir semuanya demi
kepentingan diri dan konglomerasinya. Kedua, setelah mendapatkannya
mereka kikir dan sibuk membesarkan dirinya.

Islam menghadirkan solusi, ada dua ciri profesional Muslim. Pertama,
ketika mencarinya, sangat menjaga nilai-nilai, sehingga kalau dia
mendapatkan sesuatu, dirinya lebih bernilai daripada yang dia
dapatkan. Kalau dia mendapat uang, maka dia dihormati bukan karena
uangnya, tapi karena kejujurannya. Kalau dia mempunyai jabatan, dia
disegani bukan karena jabatannya, tapi karena kepemimpinannya yang
bijak, adil dan mulia.

Kedua, setelah mendapatkannya dia distribusikan untuk sebesar-besar
manfaat bagi kemaslahatan umat. Makin kaya, makin banyak orang miskin
yang menikmati kekayaannya.

Kita seringkali menganggap bahwa keuntungan itu adalah finansial
(uang), sehingga sibuk menumpuk harta kekayaan untuk bermewah-
mewahan. Inilah di antaranya yang membuat bangsa kita hancur.

Firman Allah, “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah
kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah
sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” (QS Al Jumu’ah [62]: 10).

Carilah karunia Allah, bukan uang. Sesungguhnya keuntungan itu tidak
identik dengan uang. Walaupun tidak mendapatkan uang, jika niatnya
lurus dan cara berikhtiarnya benar, maka kita sudah beruntung, Allah
yang akan mendatangkannya suatu saat kelak.

Alat ukur keuntungan dalam berbisnis atau bekerja itu ada lima.

Pertama, yang namanya untung itu adalah kalau apa yang kita lakukan
menjadi amal shaleh. Walaupun belum (atau bahkan tidak) mendapatkan
uang, tetapi jika telah berkesempatan menolong orang lain,
meringankan beban orang lain, memuaskan pembeli atau melakukan apapun
yang menjadi kebaikan di sisi Allah, maka semua itu sudah merupakan
keuntungan.
Sebaliknya, bisnis narkoba, perjudian, dan prostitusi itu
menghasilkan banyak uang, tetapi jangan pernah merasa beruntung
kalau bisnis itu berkembang. Itu semua bukan keuntungan, melainkan fitnah
karena akan mendapat kutukan dan laknat dari Allah.

Kedua, yang namanya untung adalah kalau apa yang kita lakukan itu
bisa membangun nama baik (citra diri) kita. Jangan sampai kita
mempunyai banyak uang, tetapi nama baik kita hancur, dikenal sebagai
penipu, pendusta atau koruptor. Apalah artinya kita mempunyai banyak
harta, tapi citra kita hancur sehingga istri dan anak-anak menjadi
tercekam dan terpermalukan. Kekayaan kita bukan pada tempelan (uang,
pangkat, jabatan), kekayaan kita harus melekat pada citra diri kita.

Ketiga, yang namanya untung adalah kalau apa yang kita lakukan itu
bisa menambah ilmu, pengalaman, dan wawasan. Jika kita mempunyai
banyak uang, tetapi tidak berilmu, sebentar saja bisa hangus uang
kita. Tidak sedikit orang yang mempunyai uang, tetapi tidak memiliki
pengalaman, sehingga mereka mudah tertipu. Sebaliknya, misalkan uang
kita habis karena dirampok, kalau kita memiliki ilmu, pengalaman,
dan wawasan, kita bisa mencarinya lagi dengan mudah.

Keempat, yang namanya untung adalah kalau apa yang kita lakukan itu
bisa membangun relasi atau silaturahmi. Oleh karenanya, jangan
pernah
hanya karena masalah uang hubungan baik kita dengan orang lain
menjadi hancur.
Setiap orang yang terluka oleh kita, dia akan menceritakan luka di
hatinya kepada orang lain. Dan ini akan menjadi benteng yang
memenjarakan, kita semakin kecil. Jangan mencari musuh, tapi
perbanyak kawan. Kalau kawan sudah mencintai kita, mereka akan
bersedia untuk membela dan berkorban untuk kita, setidaknya mereka
akan menceritakan sesuatu yang baik tentang kita.

Kelima, yang namanya untung itu tidak hanya sekadar untuk
mendapatkan
manfaat bagi diri sendiri, tetapi apa yang kita lakukan itu justru
harus banyak menguntungkan dan memuaskan orang lain.

Oleh karena itu, kalau kita sudah meyakini bahwa pembagi rezeki
adalah Allah, maka bisnis kita bukan lagi dengan manusia, tetapi
dengan Allah, penggenggam setiap rezeki. Waspadalah terhadap bisnis
yang tidak menjadi amal, yang tidak menjadi nama baik, yang tidak
menjadi ilmu, yang memutuskan silaturahmi, dan yang mengecewakan
orang lain. Karena semua itu bukan keuntungan, tetapi bencana.

Sumber : http://republika.co.id

Filed under: al-Islam,

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

--------------------------------------------------------------------------------------

Syukron

Anda telah mengunjungi blog sederhana, saya hanya baru belajar mengenai blog. Mudah-mudahan apa yang saya posting bermanfaat bagi kita semua. Mohon maaf jika dalam postingan terdapat kesalahan karena saya manusia biasa yang sering khilaf.
--------------------------------------------------------------------------------------
------------------------------------------------------

Kalender Posting

Agustus 2009
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Lokasi Pengunjung

Locations of visitors to this page ---------------------------------------------------------------
Masukkan Code ini K1-6Y5EA7-7
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com --------------------------------------------------------------- Counter Powered by  RedCounter
%d blogger menyukai ini: